Sabtu, 21 Januari 2017

Cerpen anak 'Om Bule dan Kereta Api'

Cerpen

Om Bule dan Kereta Api
Oleh Dela Posita

Liburan sudah berakhir. Sudah satu minggu lamanya Mia, mama dan kakak berlibur di rumah 
nenek. Saat liburan sekolah adalah saat saat paling menyenangkan bagi Mia karena dapat bermain dran bermanja ria bersama kakek dan nenek. Ya, rumah kakek dan nenek berada di kota yang berbeda 
sehingga Mia sulit bertemu dengan mereka. Hanya di waktu waktu tertentu seperti liburan sekolah inilah Mia dapat bertemu dalam waktu yang lama.
Mama sudah berkemas sejak kemarin. Hari ini Mia akan kembali ke Jakarta menggunakan kereta api. Mia cemberut dan bermalas malasan di kasur nenek. Berat rasanya untuk mengakhiri liburan ini dan meninggalkan nenek dan kakek. “Mia, hari ini kita harus pulang. Nanti kapan-kapan kita main lagi ke 
rumah nenek”, ucap mama. Mia hanya terdiam.

Ges.. ges… gess… suara kereta api sudah terdengar. Hiruk pikuk orang di stasiun kereta api 
sangat terasa. Sebenarnya Mia sangat menyukai bepergian dengan kereta api. Pemandangan sepanjang jalannya selalu membuat Mia terpesona. Sawah yang terhampar luas, pepohonan yang bergoyang ditiup 
angin, rumah dan kendaraan yang terlihat terlewat dengan cepat, hembusan angin dari luar gerbong yang menyegarkan…. Aahhh… berwisata dengan kereta api memang selalu menyenangkan. Apalagi berkendara dengan kereta terbebas dari kemacetan dan rasa mual seperti saat berkendara dengan bis. Karena itulah 
berwisata dengan kereta api selalu menjadi pilihan keluarga Mia.


Tapi tidak kali ini. Kereta Parahyangan yang akan dinaiki Mia dan keluarga kali ini adalah kereta malam. Pemandangannya sudah tentu gelap. Dan malam itu penumpang kereta tujuan Jakarta luar biasa padat. Belum pernah Mia melihat kereta sepenuh ini.

Satu tangan mama memegang erat tangan Mia. Sementara tangan satunya menenteng tas bawaan. 
Kakak yang sudah lebih besar berjalan di samping mama. Setelah mendapati gerbong sesuai tiket mama membawa Mia dan kakak ke dalam kereta. Hari itu penumpang membludak! Mungkin karena dua hari lagi liburan akan berakhir, dan anak-anak akan segera masuk sekolah.

Gerbong yang Mia naiki penuh sesak dengan penumpang. Banyak orang yang duduk di bawah lantai kereta. Sampai sampai Mama dan 
Mia harus berjalan pelan dan hati-hati. 

Semua tempat duduk sudah terisi. Tiga seat kursi yang seharusnya menjadi bagian mama, kakak dan Mia hanya tinggal tersisa dua. Yang satu sudah terisi oleh penumpang lain dengan beberapa anak yang usianya lebih kecil dari Mia. Mama pun memilih mengalah dan duduk dengan menggendong Mia.

Setelah menunggu beberapa lama akhirnya masinis menjalankan keretanya. Tiupan angin malam 
langsung terasa. Untungnya mama sudah mengenakan jaket dan kaos kaki untuk Mia dan Kakak. Mama 
memeluk Mia yang berada dalam pangkuannya. Mia memandangi sekitarnya. Jika biasanya satu jajaran kursi kereta api hanya diduduki oleh dua orang, kali ini kursi tersebut diduduki tiga sampai empat orang.

Semua penumpang duduk berdempetan. Anak-anak kecil banyak yang dipangku oleh orang tuanya. Yang tidak beruntung tentu saja duduk di lantai kereta api.

Ada yang menarik perhatian Mia. Diantara sesaknya penumpang, ada seorang pria asing, om bule 
yang duduk di bangku seberang Mia. Om bule terlihat santai duduk berdesakan. Dia pun memberikan 
senyuman pada Mia yang memandanginya. Mia mulai gelisah. Duduk di atas mama lama-lama membuatnya tak nyaman. Ingin sekali Mia bebas duduk sendiri. Om bule yang duduk di kursi seberang Mia tiba tiba saja menawarkan kursinya. 
Dengan bahasa Indonesia berlogat bahasa Inggris dia berkata, “Adek… duduk disini saja. Di sebelah saya masih ada tempat”. Mama memberikan izin dan Mia segera pindah duduk di sebelah om tersebut. Mia gembira. 

Pelajaran yang paling Mia sukai di sekolah adalah bahasa inggris dan Mia tak sabar untuk berbincang bahasa inggris dengan om bule tersebut. Sepanjang perjalanan Mia dan om bule sibuk bercerita, apa saja. Om bule bercerita tentang rumahnya, kegiatannya dan yang menarik om bule memiliki perkebunan dan peternakan kuda di daerah Jawa Barat. 

Mia membayangkan bagaimana asiknya berkuda. Sebenarnya om bule lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia karena dia sudah lama tinggal di Indonesia dan cukup fasih menggunakan 
Bahasa Indonesia. Namun Mia memberanikan diri untuk sesekali bertanya menggunakan bahasa Inggris. Meskipun Bahasa Inggris Mia masih terbata bata tapi om bule mau mendengarkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan Mia.

Om bule lalu mengeluarkan sebuah post card. Dia menuliskan sesuatu dan memberikannya pada Mia. Pada satu sisi kartu tersebut bergambar pemandangan keindahan hamparan kebun teh di daerah Jawa Barat. Sedangkan di sisi lain kartu tertulis sebuah alamat. “Ini alamat rumah om di Bandung. Nanti kapan-kapan kamu bisa kirim surat kesini”, om bule menerangkan. Mia tersenyum dan memegang kartu 
tersebut.

Perjalanan malam itu berubah menjadi sangat menyenangkan. Meskipun malam itu penuh sesak 
dengan penumpang tapi Mia merasa senang bertemu dengan om bule. Selain baik hati, om Bule 
memberikan pengalaman untuk meningkatkan kemampuan berbahasa inggris bagi Mia.

Angin semakin menusuk tulang, tanda hari semakin malam. Tiga jam sudah berlalu. Sebentar lagi 
kereta api akan sampai ke tujuannya, Jakarta. Selepas bercerita panjang lebar dengan om bule, Mia mengantuk dan tertidur di kursi sambil memegang erat kartu yang diberikan om bule.

Samar-samar Mia mendengar suara. Mama membangunkan Mia untuk bersiap-siap. Stasiun 
tujuan mereka akan segera tiba. Mama bilang papa sudah menunggu di stasiun untuk menjemput. Mia 
masih mengantuk dan terkejut kebingungan mencari-cari om bule yang sudah tidak ada di sampingnya. Namun kereta sudah berhenti. Terdengar pemberitahuan bahwa kereta sudah sampai di tujuan dan penumpang dipersilahkan turun.

Mama bergegas membawa mia dan kakak. Kali ini jalanan gerbong sudah lowong. Banyak penumpang yang sudah turun di stasiun sebelumnya.
Mia senang melihat papa. Mia dan kakak segera mencium tangan papa saat bertemu. Mama 
berhenti sesaat di stasiun untuk membeli beberapa makanan dan minuman. Peluit kereta api sudah 
dibunyikan. Kereta Parahyangan sudah mulai bergerak untuk pergi ke stasiun berikutnya. Mia tertegun, sambil memegangi post card. Mia tak bergeming dari tempatnya, terus memperhatikan kereta yang 
beranjak pergi. Mia masih berharap dapat melihat dan melambaikan tangan pada om bule. Tiba-tiba seorang bapak yang tadi juga duduk berdekatan dengan Mia berkata “Dek… om tadi sudah pergi… dia 
turun di stasiun sebelumnya.”. “Tadi adek tidur, jadi dia tidak mau membangunkan adek”, ujar bapak 
tersebut sambil tersenyum. 
Mia terkejut mendengar penjelasan si Bapak. Mia sedih karena belum sempat mengucapkan 
terima kasih dan salam perpisahan kepada om bule. Mia pun segera berbalik menghampiri mama. Dalam 
hati Mia berjanji akan segera mengirimkan surat kepada om bule. Mia akan menceritakan tentang teman-
teman, sekolah dan tentunya tak lupa berterima kasih atas kebaikan yang telah diberikan om bule.**
***

Senin, 02 Januari 2017

Cerpen anak 'Monyet Yaki' by Delapos

Monyet Yaki
Oleh Dela Posita

Namaku Tasya. Aku sangat menyukai binatang. Aku pernah memelihara berbagai binatang di
rumah dari mulai ikan, kelinci, ayam, burung, kucing dan anjing. Untungnya semua keluargaku dari mulai
papa, mama dan adik juga menyukai binatang sehingga kami bisa memeliharanya bersama sama dan
bergantian.

Mama dan papa memperbolehkan aku memelihara binatang jika aku mau mengurus mereka
dengan baik. Aku dan adik bergantian memberikan makanan pada mereka, tapi tentu saja mama dan papa
yang lebih banyak mengurusnya. Papa bertugas menyiapkan makanan dan membersihkan kotoran,
sedangkan mama membantuku memberikan makanan dan mengobatinya jika sakit. Menurut mama,
binatang adalah ciptaan tuhan yang harus dijaga dengan baik. Mereka tidak hanya butuh disayang namun
juga harus diberi makan yang baik, dijaga kebersihan dan kesehatannya.
Suatu kali aku pernah bertanya pada mama punya cita-cita apa? Sambil tersenyum mama
menjawab ingin memiliki tempat konservasi binatang, tempat menjaga dan melestarikan binatang.
Binatang-binatang yang dilindungi dan hampir punah akan dibantu diobati jika terluka dan dikembalikan
lagi ke alam tempat tinggalnya. Mama memang pecinta binatang. Mama seringkali menceritakanku kisah-
kisah binatang, binatang apa saja yang dilindungi dan apa saja yang bisa kita lakukan untuk melindungi
binatang.

Di daerah asalku di Minahasa, Sulawesi Utara, banyak sekali binatang endemik, yang hanya ada
di satu daerah, langka dan dilindungi. Salah satunya adalah monyet Yaki. Dari seluruh dunia, Yaki hanya
ada di daerah Sulawesi Utara, Indonesia. Maka itu mama bilang kita sebagai orang Indonesia, khususnya
Minahasa harus bangga memiliki Yaki dan harus menjaganya. Menurut mama, Yaki sudah hampir punah
karena banyak diburu manusia untuk dipelihara dan dijadikan makanan.

Masyarakat kami, Minahasa,
memang telah memiliki budaya untuk memakan daging monyet yaki sejak lama namun aku sendiri belum
pernah memakannya, bahkan aku belum pernah melihat secara langsung monyet Yaki ini. Mama hanya
sering memperlihatkanku gambar monyet Yaki ini dari internet.
Monyet Yaki memiliki ciri yang sangat khas dibandingkan monyet lainnya. Selain bentuk
mukanya yang khas dan rambutnya yang hitam lebat, monyet yaki memiliki warna merah muda
berbentuk hati pada bagian pantatnya. Hmmm… aku jadi penasaran untuk melihatnya langsung…
**
Siang ini matahari sangat terik. Namun pohon-pohon nyiur yang berada di sekitar kami banyak
memberikan angin sejuk. Daerah Minahasa memang terkenal dengan sebutan ‘Nyiur Melambai’, itu
karena banyak sekali tumbuh pohon nyiur, atau yang biasa kita sebut sebagai pohon kelapa, tumbuh subur
di daerah kami. Jarak dari sekolah ke rumahku memang tidak terlalu jauh sehingga aku terbiasa pulang
berjalan kaki bersama teman-teman.

Perjalanan berjalan kaki terkadang memang terasa berat di saat cuaca
panas seperti ini, untungnya aku selalu ditemani teman-teman.
“Tasya, ngana so dengar rumah misteri di ujung jalan sana?”, “Mari jo torang liat”… salah satu
temanku, Alan mengajak kami untuk pergi mampir ke sebuah rumah. Menurut orang-orang rumah di
ujung jalan tersebut sangat besar dan indah, namun sangat misterius. Jarang terlihat orang yang keluar
masuk. Di sepanjang tembok rumahnya tumbuh tanaman dengan bunga-bunga yang indah. Menurut Alan
dia pernah melihat sebuah pintu masuk di bagian belakang rumah tersebut. Suatu kali pintu tersebut
sempat terbuka dan terlihat halaman yang sangat luas dipenuhi berbagai macam pepohonan. Salah
satunya pohon matoa. Matoa adalah buah khas dari daerah Sulawesi Utara. Buah ini sangat unik karena
memiliki rasa yang berbeda beda. Satu buah matoa bisa terasa seperti durian, tapi buah matoa lainnya bisa
terasa seperti buah leci. Unik bukan… Matoa adalah buah kebanggaan dan kesukaan kami. Matoa hanya
berbuah musiman, dan saat ini sedang musim panen matoa. Alan mengajak kami pergi ke rumah
misterius itu. Siapatau kami beruntung mendapatkan beberapa buah matoa yang jatuh ke luar rumah.
**
Sesampai di rumah Brown anjingku sudah menunggu. Brown berwarna coklat keemasan, itu
sebabnya kami beri nama ‘Brown’. Besarnya setengah dari tinggi tubuhku. Dia mengibas-ngibaskan
ekornya karena senang melihat kedatanganku. Aku mengelus kepalanya. Di meja makan mama sudah
menyediakan makan siang kesukaanku, ikan rica dan sayur kangkung. Aku segera meletakkan sepatu dan
mengganti baju seragamku. Setelah mengganti pakaian dan mencuci tangan segera ku santap makan siang
buatan mama. Sadaaappp…
“Ma, Tasya mau main ya deng tamang-tamang”, izinku pada mama untuk bermain bersama
teman. “Panas ini Tasya. Sore jo…”. Mama melarangku main siang ini. Cuaca siang ini memang sangat
panas. Tapi mama sudah memberikan izin untuk main sore nanti.
Aku tak bisa tidur. Terkadang di siang hari aku tidur. Tapi kali ini aku tak bisa. Aku tak sabar
untuk melihat rumah misterius yang diceritakan Alan tadi. Pr Matematika untuk esok sudah aku
selesaikan. Tak lupa segera kusimpan di tas sekolah untuk esok hari. Aku bergegas mandi untuk pergi
bermain bersama teman-teman.
Aku, Alan, Roni, Glori dan Brown anjingku sudah berkumpul. Mama memintaku mengajak serta
Brown bermain. Anjing memang butuh diajak bermain. Biasanya pagi atau sore hari kami mengajaknya
berkeliling meski hanya memutari lorong-lorong di komplek rumah kami. Sore ini Brown sangat
bersemangat. Dia mengibas-ngibaskan ekornya terus menerus. Sepertinya dia tahu akan berpetualang
bersama kami.

Rumah misterius itu memang bagus. Letaknya tak terlalu jauh dari rumah kami. Hanya ada
beberapa rumah di sekitarnya dengan jarak yang berjauhan. Sisanya dipenuhi oleh kebun-kebun yang
ditanami pepohonan yang tinggi. Rumah tersebut terlihat mencolok di bandingkan sekitarnya. Rumah dua
lantai dengan desain yang megah. Bagian bawahnya tidak terlihat jelas karena tertutup oeh gerbang dan
tembok yang tinggi. Hanya terlihat pilar yang besar dan kokoh dari lantai satu. Namun kami dapat melihat
bagian lantai dua rumahnya yang megah.

Rumah ini memang sangat luas seperti yang dikatakan Alan. Pasti pemiliknya adalah orang yang
sangat kaya. Kami harus berjalan agak jauh mengitari tembok rumahnya hingga sampai di bagian
belakang. Rumah itu tampak sepi, terlebih pada bagian belakangnya. Kami tidak dapat meilhat bagian
dalam rumahnya karena pintu bagian belakang rumah itu tertutup.
Brown terus berlari menyusuri tembok. Aku mengikutinya sementara teman-teman masih berada
di sekitar pintu belakang. Brown mengendus-ngendus bagian tembok yang dirambati tanaman. Brown
masuk ke dalam tanaman tersebut dan menghilang!
“Brown… Brown…!”, aku memanggilnya. Tapi tak ada jawaban. Aku segera berlari menemui
teman-teman. “Brown masuk ke dalam rumah. Ada tembok yang bolong di sebelah sana!”, aku
memberitahukan teman-teman. Langsung saja kami berlari menuju tembok tersebut. Bagian bolong
tersebut tertutupi daun-daun yang merambat dan besarnya hanya seukuran tubuh Brown. Kami pun segera
memutuskan untuk mencari Brown dan memasuki tembok bolong tersebut. Glori nampak ragu-ragu.
Kami tahu memasuki rumah orang tanpa permisi adalah perbuatan yang tidak baik, tapi kami harus
menemukan Brown.
Alan dan Roni memasuki rumah tersebut dengan merangkak. Aku sudah bersiap sementara Glori
masih celingak-celinguk melihat sekitar. “Mari jo Glori… ngana mau sandiri di sini?”, tanyaku. Glori pun
memutuskan ikut karena tidak ingin sendiri di depan rumah. Aku dan Glori merangkak pelan-pelan.
Kami sampai di sebuah halaman yang sangat luas. Banyak pepohonan disana. Alan dan Roni
sudah lebih dulu sampai dan menunggu. Kami pun mulai menyusuri halaman tersebut. Ada beberapa
kandang burung disana. Burung-burung di dalamnya cantik, memiliki berbagai warna yang menarik.
Kami kemudian melewati beberapa pohon matoa. Meski sudah muncul beberapa buah di pohonnya, aku
tak sempat untuk memikirkan atau bermaksud mengambilnya. Aku hanya ingin segera mencari Brown.
Guk.. guk.. Itu dia suaranya! Kami segera mencari arah suara itu. “Brown…”, sekali lagi
kupanggil anjingku, kali ini dengan suara yang pelan. Aku takut sekali pemilik rumah mengetahui
keberadaan kami. “Brown!”, aku berteriak kecil setelah menemukanya. Kami semua lega. Entah apa yang
dilakukan Brown disini. Kami memutuskan untuk segera keluar dari rumah tersebut.
Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah pohon besar di sekitar kami. Ada sekor monyet yang diikat
di pohon itu. Hei, sepertinya aku tidak asing dengan monyet ini. Aku perhatikan baik-baik, dan… ya
benar! Ini adalah monyet yaki yang sering diceritakan mama. Bulunya yang lebat dan hitam, dan
memiliki warna pink di bagian belakangnya.
Monyet itu terikat oleh tali yang pendek sehingga dia sulit bergerak. Dia berusaha bergerak ke
kiri dan ke kanan, namun tampak sulit baginya. Tali itu menahannya. Monyet itu tampak kurang terawat.
Bulu rambutnya agak kusam dan kotor. Kasihan, monyet ini juga terlihat sedih.
“Tasya! Mari jo…”, Glori menarik tanganku. Kami bergegas untuk keluar dari rumah itu dengan
langkah cepat. Hufff… lega rasanya kami bisa keluar dari rumah itu. Kami beruntung sang pemilik rumah
tidak menyadari keberadaan kami.
Matahari mulai tenggelam ketika aku sampai di rumah. Aku segera mengganti bajuku yang kotor
terseret tanah di rumah tadi. Selepas makan malam aku menghampiri mama. “Ma, monyet yaki itu boleh dipelihara?”, tanyaku. “Ndak boleh Tasya. Mama so carita toh hewan liar itu lebih baik tinggal di alam
bebas”, ujar mama. Aku pun bercerita tentang pertemuanku dengan monyet yaki yang malang tadi. “
Tasya yakin itu monyet Yaki?! Nyandak salah lihat??”, kali ini mama bertanya dengan serius. Aku
menjelaskan semua ciri-ciri monyet tadi. Aku meyakinkan mama kalau aku berkata jujur.
**
Satu minggu sudah berlalu sejak kami melewati rumah misteri itu. Aku masih memikirkan nasib
monyet yaki. Mama bilang monyet yaki itu hidup berkelompok dengan teman-temannya. Sehingga lebih
baik dia tinggal di hutan, bermain bersama keluarga dan teman-temanya, bukan terikat di rumah itu.
Sepulang sekolah aku melihat ada mobil di depan rumah. Ada tamu siapa ya.. Kulihat di dalam
ada beberapa orang berseragam. Apa mungkin itu teman mama? Aku berjalan masuk pelan-pelan sambil
mengucapkan salam. “Nah, ini Tasya…”, mama memperkenalkanku pada bapak berseragam . Mama
menjelaskan bahwa Bapak tersebut adalah petugas konservasi dari pemerintah. Kedatangan mereka ke
rumah kami adalah untuk berterima kasih padaku. Aku bingung. Kenapa mereka mau berterima kasih
padaku?
Mama kembali menjelaskan bahwa saat aku bercerita mengenai monyet yaki di rumah misteri,
mama segera melaporkannya ke petugas yang berwenang menangani hewan langka. Rupanya bapak
petugas tersebut telah memeriksa rumah misteri yang aku ceritakan. Dan benar saja, ada monyet yaki
disana. Mereka segera mengamankan monyet yaki untuk dibawa ke tempat konservasi, dimana hewan-
hewan yang dilindungi dirawat untuk dikembalikan ke habitatnya nanti. Selain monyet yaki, petugas
tersebut juga mengambil hewan-hewan lainnya yang ada di rumah tersebut, diantaranya beberapa jenis
burung yang juga dilindungi.
 Bapak petugas memperlihatkanku beberapa lembar foto saat pengambilan monyet yaki dari
rumah misteri tersebut. Mereka berterima kasih karena aku sudah memberikan informasi keberadaan
monyet yaki. Monyet yaki ini termasuk binatang yang dilindungi sehingga tidak boleh dipelihara. Aku
tersenyum senang. Lega sekali rasanya monyet itu sudah berada di tempat yang aman. Aku yakin monyet
yaki pun saat ini sedang tersenyum karena sudah bebas dari ikatan itu dan dapat segera bertemu dengan
teman-temannya.**



Sabtu, 31 Desember 2016

Citarasa Sunda RM Kampoeng Sawah

Pagi pagi mendadak saya berangkat ke Rm Kampoeng Sawah untuk menghadiri sebuah seminar bersama keluarga.

Rupanya Kampoeng Sawah bukan hanya sekedar rumah makan. Melihat dari nama utamanya Kampoeng Sawah Resort sepertinya tempat ini bermaksud tidak hanya sebagai rumah makan namun juga sebagai penginapan, tempat pertemuan/acara juga tempat kolam renang.

Kampoeng sawah terletak di daerah Kabupaten Bandung, di daerah Katapang sebelum Soreang. Kalau anda pergi menuju daerah Banjaran Bandung tentunya akan melewati tempat ini.

Tujuan utama kami datang ke tempat ini adalah menghadiri sebuah seminar. Di lantai atas rumah makan terdapat hall yang cukup luas yang dapat disewa untuk mengadakan pertemuan. Tempat ini dapat menampung lebih dari 200 orang dan menurut saya cukup ideal untuk mengadakan acara karena cukup terbuka sehingga banyak angin segar yang masuk.


Bagi orangtua yang membawa anak dapat mengajak anak-anak pergi ke bagian bawah restauran jika bosan di atas.

Di lantai bawah anak anak dapat melepas penat dengan berjalan jalan menyusuri saung, bermain di pojok tempat main, memberi makan ikan atau duduk menikmati danau kecil dan menelusuri kapal yang tidak terpakai.




Bagian bawah adalah restauran yang terdiri dari banyak saung dan sebuah area makan dengan tempat makan standar kursi dan meja.


Rm Kampoeng Sawah adalah rumah makan berkonsep nyunda. Menu makanan utamanya sudah tentu makanan sunda seperti nasi liwet, ayam goreng dan bakar, ikan goreng, beraneka tumis sayur, sambal dan lainnya. Tempat makannya sebagian besar adalah berupa saung dengan kolam ikan di bagian bawah.

Kampoeng Sawah menyediakan fasilitas parkir yang luas dan mushola di bagian samping. Kebersihannya cukup baik namun di beberapa area di sekitar mushola memang terlihat kusam dan kurang terawat.




Saat jam makan siang tiba rm ini luar biasa penuhnya, sehingga kami tidak mendapati area saung. Area saung tentu menjadi favorit bagi pengunjung karena dapat menikmati makan bersama keluarga dengan suasana lebih santai dengan duduk berselonjor. Untuk duduk di area saung kita tidak dikenakan biaya tambahan , karena ada juga beberapa rumah makan yang mengenakan biaya tambahan untuk bisa duduk di area saung. Namun memang saung diperuntukkan bagi pengunjung yang datang dengan jumlah banyak. Saat saya datang seorang diri saya tidak diperbolehkan mendapatkan area saung saat rm sedang penuh pengunjung.

Tadinya kami akan memesan menu paket. Menu paket tentunya memiliki harga lebih murah, tapi lagi-lagi restauran memiliki kebijakan berbeda saat ramai pengunjung, kami tidak diperbolehkan memesan menu paket. Hmmm...kecewa, akhirnya kami memesan menu terpisah nasi ayam goreng, jus tomat dan jus mangga.

Pelayanan cukup cepat, kami tidak menunggu lama sampai makanan tiba. Namun berdasarkan keterangan pelayan untuk menu nasi liwet kita perlu menunggu waktu agak lama sekitar setengah jam. Kalau anda tidak terburu buru tentu tidak menjadi masalah namun karena saat itu kami akan segera pergi lagi hanya memesan nasi putih biasa. Yang cukup mengecewakan saat kami memesan menu terpisah adalah tidak mendapatkan sambal dan lalapan. Menurut pelayan sambal dan lalap dihargai terpisah.

Untuk rasa sendiri menurut saya rasanya enak, ayam cukup empuk, jus juga enak. Harga relatif terjangkau dan menu cukup variatif.

Oya, jika anda menggunakan kartu debit mandiri akan mendapatkan diskon untuk pembelian minimal seratus lima puluh ribu rupiah. Lumayan ya..

Well untuk rasa dan harga rumah makan ini boleh lah ya.. Apalagi untuk anda yang tinggal di Kabupaten Bandung atau sedang berwisata ke daerah Banjaran, Kabupaten Bandung dan sekitarnya. Untuk anda yang ingin mengadakan acara boleh juga, mereka menyediakan berbagai pilihan paket acara dan pernikahan.


Mungkin lain kali kami akan mencoba ke area kolam renangnya yang juga ada di lokasi yang sama. Menurut informasi harga tiket kolam renang cukup murah dan cukup layak untuk anak-anak. Next time deh kalau ada kesempatan ;)

Semoga bermanfaat  sharingnya, boleh ditambahin ya kalau ada info lainnya :) thx




Sabtu, 17 Desember 2016

Berenang atau Memancing di Fishing Valley?

Berenang sepertinya sudah menjadi aktivitas favorit bagi anak-anak. Tidak perlu menunggu waktu libur tiba, kegiatan ini bisa dilakukan setiap pekan atau sesering mungkin untuk menghibur keluarga.

Fishing Valley merupakan pilihan berenang di daerah Kabupaten Bogor. Tempat ini sangat dekat dengan tempat tinggal kami namun baru kali ini berjodoh kesana :) Terletak di Jalan Raya Pemda, sudah masuk ke dalam Kabupaten Bogor. Untuk menuju kesana kita bisa menggunakan angkutan umum 32 Cibinong-Bubulak (Bogor). Jika menggunakan kendaraan pribadi cukup menemukan jalan raya Pemda di daerah Keradenan. Patokannya cukup mudah yaitu adanya patung ikan sebelum masuk ke kawasan ini. Kalau dari arah Bogor tempat ini terletak tepat sebelum anda akan berbelok ke jalan yang menuju Stasiun Cilebut.



Memasuki kawasan ini akan disajikan dengan hamparan pemancingan yang luas terbentang. Jika anda menggunakan kendaraan umum maka harus berjalan sedikit ke dalam kawasan ini dari jalan utama.

Menurut penuturan staf disana kawasan pemancingan dibagi dua yaitu pemancingan untuk lomba dan pemancingan biasa. Untuk memancing biasa tidak dikenakan biaya saat memancing namun saat dapat ikan tentu saja kita harus membayar :D dengan kisaran harga 25.000-35.000 tergantung dari jenis ikan yang didapat (nila, mas, mujair dan lainnya).

Dari tagline utamanya didapati bahwa Fishing Valley adalah tempat pemancingan dan restoran, namun sayang sekali saya tidak mampir ke restoran sehingga tidak bisa melaporkan bagian tersebut.

Pada awalnya tempat ini menyediakan aktifitas berkuda, namun dikarenakan tidak ada lagi penjaga kuda, saat ini kuda kuda tersebut tidak dapat disewakan untuk dinaiki. Anak-anak saya yang sempat merengek untuk menaiki kuda akhirnya mengurungkan niat karena tidak disewakan. Sehingga kami hanya dapat melihat tiga ekor kuda di istalnya dari jarak jauh.

Daya tarik utama Fishing Valley menurut saya saat ini adalah tempat renangnya, karena adanya kebutuhan masyarakat terutama anak-anak terhadap kolam permainan. Kolam renang buka setiap hari mulai pukul 08.00 pagi sampai 18.00 sore. Harga tiket masuknya cukup terjangkau yaitu 25.000 untuk hari biasa dan 30.000 untuk weekend per orang. Khusus anak di bawah satu tahun tidak dikenakan biaya.


Kawasan kolam renang dibagi menjadi dua area. Area pertama tentu saja adalah arean bermain dengan empat kolam main dan satu area terpisah khusus dirancang kolam latihan seperti atlet renang dengan batu loncat perenang.



Sehingga kolam ini dapat digunakan oleh berbagai kalangan dari mulai anak-anak dan keluarga yang sekedar ingin bermain air, siswa dari sekolah yang mengadakan kegiatan renang massal atau atlet yang ingin berlatih khusus.

Fasilitas di kolam cukup lengkap dari mulai tempat tunggu, toilet, kamar ganti, air pancuran outdoor untuk mandi, restaurant, jajanan, area bermain, penyewaan ban, sampai fasilitas hiburan seperti panggung besar dan organ tunggal bagi yang ingin eksis karaokean.

Tempat tunggu berpayung letaknya sangat dekat dengan kolam sehingga orangtua cukup tenang untuk mengawasi anak dari jauh. Namun saran saya selalu dampingi anak-anak dari jarak dekat, ikut berenang bersama tentunya lebih baik.

Saya selalu mengusahakan berenang bersama anak-anak, selain sebagai bonding dengan mereka juga untuk pengawasan yang lebih. Berada di kawasan air bagi saya memiliki resiko yang cukup besar, dari mulai resiko tenggelam, terpeleset karena licin, juga bermain bersama teman atau orang lain yang kadang membahayakan. Bahkan saat saya sudah antisipasi mengawasi dari jarak dekat pun masih ada saja hal hal tidak diinginkan yang terjadi.

Kejadian hari ini misalnya saat Faiha terantuk pinggiran perosotan air. Meskipun ada lifeguard benar-benar tidak menjamin karena mereka mengawasi banyak hal dan saat terjadi kecelakaan pun mereka tidak akan bertindak secepat orangtua. Saat kejadian tadi misalnya, meskipun hanya kecelakaan ringan lifeguard hanya berpesan untuk hati-hati tanpa sedikitpun mengecek kondisi anak, sementara sang anak menangis kesakitan.

Kejadian lain yang tidak diinginkan lainnya adalah adanya tikus mati di kolam anak. Jika orangtua tidak turun langsung, maka anak-anak akan tetap bermain di kolam. Padahal hal ini beresiko penyebaran penyakit dari tikus mati tersebut.  Segera setelah terlihat tikus itu kami memanggil petugas untuk membersihkan dan melarang anak-anak bermain di kolam tersebut.

Kebersihan di area kolam dapat saya katakan cukup. Tempat sampah banyak disediakan pihak pengelola sehingga pengunjung tidak kesulitan membuang sampah. Namun di beberapa bagian kolam terdapat daun-daun kering sehingga di beberapa bagian kolam tampak sedikit kotor. Bagian kebersihan perlu digalakkan terutama di bagian jalanan antar kolam yang sedikit licin dan kotor. Namun untuk toilet dapat saya nilai cukup bersih.

Untuk permainan di kolam sendiri saya lihat cukup lengkap dari mulai berbagai perosotan mini sampai melingkar, ember tumpah, pancuran air, terowongan juga perosotan dengan ban besar. Sehingga anak-anak terlihat puas bermain disana.

Yang saya sayangkan adalah pada lifeguard yang menyewakan ban. Harga sewa untuk ban kecil Rp.10.000 dan ban super besar Rp.20.000. Pada saat menyewa tidak disebutkan berapa lama penggunaan ban. Sehingga anak saya sangat kecewa saat bermain tiba-tiba ban nya diambil lifeguard karena sudah dua jam pemakaian.

Di depan pintu masuk disebutkan aturan tidak boleh membawa makanan dan minuman dari luar. Cukup dimengerti karena di dalam area kolam banyak dijual berbagai makanan dengan harga yang masuk akal. Untuk jagung rebus, popcorn, crepes dan singkong goreng misalnya dihargai lima ribu rupiah. Serta ada berbagai jenis jajanan lainnya seperti nasi goreng, seblak, popmie, dan aneka snack.

Di bagian atas terdapat area outbond yang cukup luas. Area ini sepertinya dibuat untuk rombongan yang ingin mengadakan kegiatan khusus bersama-sama. Karena di dalam area ini terdapat sebuah panggung agak besar untuk mengadakan acara dan permainan anak.


Akhir kata anak-anak tentunya puas bermain disini. Sehingga hujan lah yang akhirnya menghentikan kegiatan mereka :D Dari senyum yang mengembang di bibir mereka insyaallah kami akan kembali lagi kesini karena harga yang terjangkau juga pastinya.







Jumat, 18 November 2016

Jalan Jalan Hemat: Bermain di Taman Ekspresi

Jika anda sedang berniat hemat tapi anak-anak ingin bermain, ajaklah mereka ke taman kota yang bisa diakses secara cuma cuma. Bukan hanya untuk anak-anak tentunya, remaja, dewasa, manula, siapa saja bisa datang ke taman kota.

Ada banyak taman kota di Bogor, salah satunya adalah Taman Ekspresi. Taman ini terletak di pusat kota, tidak jauh dari Taman Kencana. Untuk menuju kesini bisa menggunakan angkutan umum, tapi saya lupa jurusannya (nanti di update ya).

Dinamakan Taman Ekspresi mungkin untuk memberikan masyarakat kesempatan berekspresi melakukan berbagai kegiatan positif.

Taman ini berukuran cukup luas. Yang menonjol dari taman ini adalah memiliki kursi berundak seperti di stadion. Mungkin kursi ini sengaja di desain untuk menonton jika ada pertunjukkan di tengah taman.

Faiha anak saya adalah anak yang sangat aktif. Karenanya dia sangat senang dibawa ke tempat luas seperti ini. Dari awal datang langsung lari berputar ke seluruh taman, tak henti hentinya seperti gasing ^^' Anak-anak pasti suka dengan ruang terbuka yang luas seperti ini, terlebih anak yang aktif.

Ada banyak aktivitas yang dilakukan di taman ini, yang paling menarik tentunya banyak anak-anak yang sedang bermain sepatu roda, rupanya taman ini adalah tempat berlatih komunitas sepatu roda Bogor setiap hari Sabtu dan Minggu.


Ada juga komunitas lingkungan yang sedang mengadakan rapat dan kegiatan.



Ada yang bersepeda, makan bersama, dan banyak yang sekedar duduk santai berbincang bersama atau sendirian sambil menikmati sepoi angin.



Sayangnya ada beberapa pengamen disana yang betul betul merusak suasana. Pengamen ini mengamati, pengunjung yang baru datang segera didatangi untuk mengamen, padahal sedang asik-asiknya menikmati suasana. Tak hanya satu, selang beberapa lama datang lagi pengamen lainnya yang langsung datang berhadapan dengan kita, suaranya pun tidak merdu. Sungguh sangat disayangkan. Saya rasa pemerintah perlu mengawasi kehadiran para pengamen ini. Karena kehadiran mereka dapat membuat masyarakat malas untuk datang kesini.

Taman ini sangat bersih dan rapi. Pedagang makanan hanya ada di luar area taman, itupun tertata dengan rapi. Tidak ada sampah, semoga selalu seperti ini. Ada beberapa papan petunjuk di taman ini seperti larangan untuk menginjak rumput. Sebagai pengunjung kita harus menghormati aturan dan selalu menjaga kebersihannya ya..


Sepertinya pemerintah berhasil menjadikan taman ini sebagai tempat untuk berekapresi, sesuai dengan namanya. Saya pribadi langsung kepikiran untuk membawa biola saya dan berlatih disana. Bermain musik di ruangan terbuka yang teduh itu terbaik (buat saya)... adakah pemain musik lain yang mau menemani??.. Kita chamber sama2 :) Kalau anda suatu hari kesana dan menemukan ada yang bermain biola disana, mungkin itu saya, haha...

Yang menjadi pertanyaan saya, apa yang terjadi dengan semua aktivitas disana jika hujan?... Karena Bogor langganan hujan, dengan waktu yang cukup lama dan lebat. Apakah seketika itu juga bubar? karena tidak ada penutup/atap di taman. Sayang sekali ya kalau harus bubar, karena ada banyak kegiatan positif di dalamnya. Adakah upaya untuk mengoptimalkan fungsi taman saat hujan?..

Kami tidak terlalu lama disana, karena langit kembali mendung. Sampai detik terakhir kami akan pulang, kakak Faiha masih berlarian memutari taman. Dia sangat senang. Sepertinya taman ini akan menjadi favorit kami :)




Selasa, 15 November 2016

Saung Pak Ewok-Pilihan Kuliner Bogor yang Berkesan

Dalam rangka menjamu bubu a.k.a nenek Cucu yang sedang berkunjung ke rumah, kami mencari tempat kuliner yang berkesan namun tidak terlalu jauh dan tidak terlalu macet. Pertimbangan kami setiap pergi bersama keluarga adalah menghindari macet ^^

Saung Pak Ewok berada dalam kawasan kuliner yang sangat terkenal di Bogor: Taman Kencana.  Untuk menuju Taman Kencana bisa menggunakan angkutan umum, namun tidak semua tempat kuliner di Taman Kencana terlewati angkot, khususnya Saung Pak Ewok. Tempat ini sedikit terpisah dengan deretan 'Kedai Kita', 'Apple Pie' dan lainnya. Jika kita menggunakan angkot, harus berjalan ke bagian dalamnya. Kalau kita belum pernah kesana mungkin agak bingung menemukannya. Tidak sulit kalau kita gunakan 'GPS', seperti yang dilakukan suami saya^^



Tempat kuliner di desain cukup hangat, tidak begitu besar, tapi penuh sekali dengan pengunjung pada saat weekend. Menurut pengamatan sebagian besar pengunjung adalah anak-anak muda, sebagian lagi adalah keluarga muda seperti kami.




Beberapa pengunjung yang baru datang rela mengantri berdiri di depan demi mendapatkan tempat duduk. Namun yang saya perhatikan tidak begitu lama mereka menunggu karena makanan yang disajikan disini lebih banyak berjenis makanan cemilan sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk makan.

Menurut artikel yang saya baca Pak Ewok pada awalnya berjualan sop buah. Tak heran menu tempat ini memiliki banyak varian sop buah dan berbagai jenis es lainnya. Untuk makanan terdapat berbagai jenis baso, cuanki, somay batagor. Seingat saya tidak ada menu nasi.

Kami memesan batagor, cuanki, baso goreng, somay, sop buah yoghurt, es Bangkok, minuman oreo dan puding. Untuk rasa kami sepakat lumayan. Apalagi kalo tanya sama suami yang selera enaknya tinggi^^' Lahir dan besar di Bandung yang memiliki citarasa makanan yang enak-enak dan murah. Di Bandung tukang jualan depan rumah, pinggir jalan semuanya enak dan murah. Susah menaklukkan lidah orang Bandung atau yang lama tinggal di Bandung :D


Somay dan batagor rasanya biasa saja tapi bumbunya enak. Yang saya recommended justru Baso Goreng dan Es Bangkok nya, enyaakkk... Sayang ga sempet foto makanannya.

Oya di bagian depan dijual puding dengan bentuk yang menarik. Waspadalah anak-anak pasti tergoda, haha... termasuk kakak Faiha. Sehat sih pudingny, tapi mahil, satu puding berukuran agak besar harganya Rp.19.000,- (sama dengan harga makanan), dan setelah dibeli ga dihabisin karena rasanya biasa saja.

Yang berbeda dari tempat makan ini adalah mereka menyediakan fasilitas naik andong/ bendi/ dokar dari kawasan parkir yang agak jauh ke depan pintu tempat makan bagi pengunjungnya secara gratis! Yeaaayyy... lumayan naik andong, hiburan buat anak-anak. Padahal jaraknya deket si, tapi seru aja ya naik andong.


Tapi secara keseluruhan tempat ini cukup rekomendasi untuk makanan yang lumayan enak dengan harga yang tidak terlalu mahal. Karena di Bogor rata-rata harga makanan menurut kami relatif mahal dengan rasa yang biasa saja (belum move on sama Bandung).

Sekian laporan kuliner kali ini. Selamat berkuliner cerdas :) Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat.


Sabtu, 12 November 2016

Wisata ke Taman Topi

Perjalanan ke Taman Topi ini cukup mendadak sebetulnya karena baru malam sebelumnya saya diajak oleh Ateh a.k.a Ibu Zaki.

Taman Topi terletak di pusat kota Bogor. Untuk menuju kesana bisa diakses dengan berbagai angkot yang menuju stasiun kereta Bogor. Selain menggunakan kendaraan pribadi tentu saja bisa menggunakan kereta api dalam kota karena letaknya bersebelahan dengan stasiun kereta api Bogor.

Kali ini kami menuju kesana menggunakan kereta api. Walaupun sebenarnya jarak dari rumah kami tidak terlalu jauh dengan Taman Topi namun anak-anak lebih suka bepergian dengan kereta.

Hari minggu pagi persiapannya cukup membawa bekal nasi, minuman, snack dan perlengkapan renang karena menurut informasi anak-anak bisa bermain air disana.

Kami naik kereta dari stasiun Cilebut di dekat rumah, satu stasiun sebelum stasiun Bogor. Biaya kereta per orangnya murah meriah, ga sampai 10 ribu, lupa karena tiketnya dibayarin ibu zaki, :) .. Alhamdulillah kereta krl nyaman dan dapet duduk karena kita berangkat bersama krucil, jadi diutamakan anak- anak.

Sampai di stasiun Bogor sudah masuk waktu zuhur. Kami mampir shalat di mushola stasiun yang cukup nyaman dan rapi. Baru pertama menginjak stasiun Bogor, cukup kagum dengan suasananya yang canggih dan luas. Stasiun lain yang saya datangi soalnya biasa saja. Mungkin karena stasiun Bogor ini pemberhentian terakhir ya, jadi banyak yang hilir mudik naik kereta, apalagi pekerja pekerja di Jakarta banyak yang huniannya di Bogor. Sehingga stasiun ini menjadi fasilitas penting dalam kehidupan masyarakat Bogor utamanya.

Taman Topi terletak hampir bersebelahan dengan stasiun Bogor. Keluar dari stasiun kita hanya perlu berjalan ke arah sebelah kiri beberapa meter saja dan voilaaa!, sampai...!! :)

Taman Topi dikelola cukup baik melihat kerapihan dan kebersihannya. Tiket masuk ke per orangnya cukup murah, hanya sembilan ribu rupiah per orang. Tapi....untuk masuk/ main ke tiap wahananya kita harus membeli coin atau tiket lagi. Harga tiap permainan atau wahana berbeda beda, untuk naik kereta monorel misalnya kita membayar Rp.10.000,- per kereta (bisa dua orang). Flying fox Rp.10.000,- per anak. Yang paling mahal mungkin masuk ke kolam air (kolam renang mini) yaitu Rp. 25.000,- per anak. Jumlah permainan di Taman Topi mungkin lebih dari sepuluh. Kalau semua permainan mau dinaiki anak-anak garuk garuk kepala juga saya ^^'

Kalau kita ga mau keluarin uang lagi saat main di Taman Topi bisa saja sih karena disana ada taman bermain outdoor dengan fasilitas ayunan, tali panjat dan lainnya yang bisa digunakan secara gratis. Tapi ya yang namanya anak-anak liat aneka mainan di sekelilingnya, ya pasti pengen lah ya.... #tepokjidat#. Makanya pas saya masuk ke taman, anak anak saya ingatkan hanya boleh menaiki tiga wahana ^^'

Anak anak saya menaiki monorel, balon putar, bombomcar, kolam air dan flying fox. Permainan monorel cukup menyenangkan karena kita dapat melihat berbagai wahana dari taman topi dari atas namun juga menegangkan karena kita menaiki kereta di tempat yang cukup tinggi dengan satu rel yang sepertinya bergoyang-goyang. Saran saya anak-anak sebaiknya didampingi orang dewasa saat menaikinya, berjaga-jaga memegangi anak-anak yang tiba-tiba berdiri atau bergoyang goyang atau naudzubillah melompat... karena bagian samping pintu kereta pendek dan cukup terbuka.

Bombomcar tentu saja seru bagi anak-anak ya, berputar mengelilingi mobil dan saling menabrakkan. Adek yang menaiki ini bersama saudara laki-lakinya yang lebih besar 'ketagihan' minta berulang ulang menaikinya.

Nah, kalo balon gelembung di atas air ini menjadi pilihan kakak. Dari awal matanya langsung tertuju kesana. Bola besar berwarna warni yang menggelinding di atas air sepertinya sangat menarik. Sayangnya satu tiket bola gelembung yang cukup mahal menurut saya, kalau tidak salah 20 ribu per anak, dalam waktu yang relatif sebentar.



Permainan kolam air yang terletak di bagian belakang Taman Topi pastinya akan menarik anak-anak kecil. Kolam renang mini ini tinggi airnya hanya sebetis orang dewasa. Meskipun ukurannya kecil namun memiliki beberapa pernak pernik air seperti berbagai pancuran yang disukai anak. Namun dengan ukuran kolam yang sempit sepertinya tidak bisa didampingi orang dewasa langsung. Pada saat anak anak kami bermain disana, anak-anak lain pun tidak ada yang didampingi orang dewasa di dalam kolam. Entah karena orang yang tidak memiliki tiket tidak boleh masuk atau memang orangtua/ pendamping waktu itu hanya berniat mengawasi dari jauh. Kalau saya pribadi karena anak-anak sudah berusia lima dan tujuh tahun saya merasa bisa melepas mereka di kolam yang pendek. Selain itu ada penjaga kolam yang mengawasi anak-anak.

Pendamping hanya duduk di tempat yang telah disediakan di samping kolam. Tempat tunggunya persis berada di samping kolam sehingga kita dapat mengawasi anak-anak dari luar. Namun kekhawatiran tentu ada bagi anak-anak yang berusia balita seperti terpeleset jika bermain tanpa pendampingan langsung.

Yang paling berkesan sepertinya adalah menaiki flying fox karena ini kali pertama mereka melakukannya.

Menurut penjaga wahana, flying fox sudah bisa dilakukan mulai usia empat tahun. Anak-anak diikat dengan tali pengaman, meniti anak tangga di pohon yang tinggi lalu meluncur beberapa meter ke bagian tengah taman.


Dari pengalaman kami berkunjung ke Taman Topi anak-anak terlihat sangat berkesan dengan permainannya, terbukti mereka ingin balik lagi kesana. Tapi bagi saya, wisata ini terlihat murah tapi ternyata mahal mengingat permainan permainan di dalamnya bayar terpisah kembali. Berikut beberapa tips yang dapat saya berikan jika anda ingin berkunjung ke Taman Topi:

- Bawalah bekal makan dan minum yang cukup jika anda ingin berhemat agar tidak perlu mencari dan membeli kembali di lokasi.

- Dampingi anak saat menaiki monorel

- Bawa baju ganti dan pakaian renang untuk persiapan jika tiba-tiba anak tergoda untuk main di kolam air. Jika tidak ingin anak-anak main di kolam air, jangan pergi ke bagian belakang taman, agar tidak terlihat anak-anak :D

- Jika budget anda terbatas buatlah perjanjian dengan anak dari awal sebelum memasuki lokasi bahwa mereka hanya boleh memilih beberapa permainan, misal tiga.

- Selalu berikan batas waktu untuk bermain, misal kita disini hanya sampai jam dua siang, dan ingatkan kembali sepuluh menit sebelum acara akan berakhir agar anak memiliki waktu untuk bersiap dan mengurangi kerewelannya ;)

Sekian sharing pengalaman saya. Semoga bermanfaat. Nantikan sharing selanjutnya :) Terima kasih sudah membaca.