Jumat, 21 April 2017

Imah Nini, nilai A+ Kafe Bercitarasa Tinggi

Dari beberapa kafe kopi yang kami coba di Bogor, tempat ini mendapatkan peringkat utama soal rasa bagi kami.


Imah Nini adalah kafe yang menyediakan berbagai jenis kopi, makanan dan kue/camilan yang dapat dijadikan oleh oleh. Ini kafe favorit kami sekeluarga, selain karena rasa kopi dan makanannya yang endeusss, variatif,  pelayanan cepat juga karena letaknya yang bersebrangan dengan tempat saya mengajar.

Letaknya di Jalan Bangbarung/Achmad Sobana,  kawasan kuliner Bogor. Angkutan umum yang lewat ada 09 berwarna hijau jurusan BTM-Jambu dua.


Spesialisasinya tentu kopi dengan berbagai teknik, vietnam dripp,  espresso, tubruk dan masih banyak lagi. Buat suami yang pecinta kopi sebenernya kopinya enak tapi kurang kuat. Istilahnya kurang bisa bikin 'melek'.

Tapi hmmm...  Minuman lainnya ga kalah enak,  favorit kami adalah green tea latte. Kemarin baru coba hot chocolate sama red velvetnya juga enak banget. Coklatnya bener bener terasa,  cocok untuk pecinta coklat seperti saya.




Makanan yang selalu kami pesan kentang goreng pastinya,  karena itu yang paling familiar di mulut anak-anak, kentang goreng bertabur keju. Rice steemed atau nasi panggang nya, baik rasa sapi atau ayam dua duanya enak banged, keju nya terasa tapi memang agak pedas. Karena anak-anak ga kuat pedas jadi mereka cuma icip icip aja.  Kemarin kita coba somaynya, ternyata yang keluar menurut saya adalah batagor tapi rasanya enak hanya porsinya kurang 😁



Pelayanan untuk minuman bisa dibilang cepat dan baristanya kalau kami perhatikan profesional,  membuat kopi dengan standar yang betul.

Menunya variatif dalam ukuran yang pas. Kita sebagai pengunjung punya cukup banyak pilihan namun tidak sampai bingung dibuatnya.



Kafe ini memiliki ruangan dengan ukuran yang menurut saya pas, tidak terlalu luas namun cukup untuk menampung sekitar 70 orang.  Bagian bawah adalah daerah tanpa asap rokok.

Bagian atas bisa digunakan untuk anda yang ingin merokok.



Baik bagian atas maupun bawah keduanya sangat nyaman dengan gaya vintage dan sentuhan klasik.  Berbagai aksesori dari berbagai negara menghiasi ruangan dengan apik. Anak-anak sangat suka dengan berbagai hiasan yang ada disana, dari mulai mencoba berbagai topi yang dipajang di kafe, melihat lihat hiasan yang unik,  dan favoritnya duduk santai di kursi goyang pastinya.




Dengan lantunan musik slow yang terdengar samar samar pengunjung terlihat betah berlama lama di kafe, sekedar untuk mengerjakan tugas dengan laptopnya atau berbincang santai bersama teman.

Nilai plus lainnya untuk kafe ini juga menyediakan berbagai kue dan camilan yang bisa dijadikan oleh oleh. Kalau saya sudah coba kue bolu fruit cake dan singkongnya, enak banget, harganya cukup terjangkau dari mulai 25ribu sampai 30ribuan per dus nya.



Sejauh ini Imah Nini adalah kafe favorit kami,  sangat memuaskan,  nilai A+ untuk rasa makanan dan minumannya. Semuanya diracik dengan apik, meninggalkan kesan cantik untuk ingin terus kembali lagi.

Jumat, 14 April 2017

Memberdayakan Tempat Sampah Organik dan Anorganik di Rumah

Sudah satu minggu ini tempat sampah di rumah terbagi menjadi dua bagian 'sampah organik' dan 'sampah Anorganik'.

Berawal dari ajakan di sekolah kakak. Kebetulan sekolah kakak adalah sekolah berbasis lingkungan dan alhamdulillah telah mendapatkan predikat dan penghargaan Sekolah Adiwiyata,  sekolah yang berbasis lingkungan, se kota Bogor.

Salah satu programnya kemudian ingin mengajak siswanya untuk menerapkan gaya hidup cinta lingkungan tidak hanya di sekolah namun juga diterapkan di rumah masing masing. Salah satunya dengan memisahkan sampah di rumah menjadi dua bagian, organik dan anorganik.

Sampah organik adalah sampah yang bisa mengalami pelapukan dan terurai menjadi bahan yang lebih kecil dan tidak berbau.  Contohnya adalah makanan dan daun.  Sampah ini kemudian dapat dijadikan pupuk atau kompos.

Sampah anorganik adalah sampah yang berasal dari produk non hayati dan tidak dapat diuraikan oleh alam (wikipedia.co.id). Contohnya adalah botol, plastik, kaleng.

Gerakan memilah sampah sebenarnya sudah pernah saya lakukan beberapa tahun yang lalu namun gagal, hanya bertahan beberapa lama dikarenakan :
1.Tidak ada dukungan keluarga
2.Terpatahkan oleh teori "nanti pas dikumpulin di tukang sampah juga disatuin ", jadi merasa sia sia.
3.Males ribet

Dukungan keluarga dan komitmen bersama itu sangat penting. Kalau cuma kita yg buang sampah secara terpisah sama aja bohong kan...  😉 Makanya waktu si kakak yang inisiatif bilang "Bunda,  kata bu guru tempat sampah harus dipisah". Waw seperti gayung bersambut dong,  keinginan saya dari dulu untuk memisahkan sampah minimal didukung satu anggota keluarga.  Lalu karena ini menjadi seperti sebuah pr dari sekolah,  mau ga mau ayah pun nurut. Sang adik justru semangat mensukseskan program ini,  karena fitrahnya adik selalu ikut ikutan kakaknya 😄 Bibi yang kerja di rumah otomatis menyesuaikan.

Langsung lah saya segera membeli satu buah tempat sampah lagi (selama ini cuma ada satu 😅). Mumpung ada instruksi dari sekolah segera laksanakan, karena anak anak lebih segan kalau tidak menuruti gurunya 😁.

Ribet iya, karena lebih enak kalau kita buang sampah ga pake mikir,  tinggal plung... Plung... Kalau sekarang saya inget inget dulu.. Ini dimasukkin ke sebelah kiri (organik)  atau kanan (anorganik)  ya..  Bahkan ada beberapa jenis sampah yang saya masih bingung masuk kemana,  misalnya kertas dan tisu. Karena kebingungan itu akhirnya bunda kembali mencari tahu mana yang termasuk organik dan anorganik. Usut punya usut, ternyata kertas itu sebenarnya masuk ke dalam sampah organik namun karena kertas dapat dimanfaatkan kembali menjadi bahan daur ulang jadi seringkali dimasukkan ke dalam anorganik. Jadi saat ini saya putuskan untuk memasukkan sampah kertas ke dalam sampah anorganik. Siapatau bisa dimanfaatkan kembali oleh pengelola sampah.

Oiya berbicara mengenai pengelolaan sampah pada akhirnya, sebetulnya saya juga ragu apakah sampah yang sudah saya pilah ini akan dipisah juga oleh Tempat Pengelola Sampah 'TPS'. Kezel ya kalo kita udah pilah ternyata ujung ujungnya disatuin juga. Tapi ya sudahlah yang penting kita sudah berusaha untuk yang terbaik. Semoga pemerintah pun berusaha yang terbaik apalagi kalau sudah melihat masyarakatnya berusaha yah 😊. Siapatau kalau ada pemulung yang lewat dan ambil sampah anorganik kita bisa dipakai untuk dimanfaatkan kembali.

Yang paling menarik dari pembiasaan memilah sampah ini adalah pendidikan bagi anak anak. Kakak dan adek sudah mengerti sedikit sedikit mana yang termasuk organik dan anorganik. Namun mereka seringkali masih bertanya "bunda, ini masuk kemana,  yang tempat sampah pink ya,  yang organik? ".. Lucu sekaligus bahagia melihat anak anak bisa berkembang menjadi anak anak yang peduli lingkungan.  Bahkan si adek yang mengingatkan bibi yang kerja di rumah,  "Bi,  sekarang tempat sampahnya udah dibagi dua ya. Kalau yang makanan dibuangnya kesini (sambil menunjuk tempat sampah pink) ". Bibi pun tersenyum.

Mengapa kita perlu memilah sampah? Agar sampah tersebut dapat dimanfaatkan kembali! Kalau kita menyatukan semuanya maka sampah anorganik akan rusak oleh sampah sampah organik dan tidak dapat dimanfaatkan kembali. Sampah anorganik diharapkan dapat didaur ulang,  dikelola kembali, misalnya menjadi karya karya kreatif. Di sekolah kakak misalnya, setiap murid diwajibkan untuk membuat barang kreatif seperti tas dari barang yang tidak terpakai. Kami pun memutuskan untuk membuat tas dari kardus susu yang memang sudah selesai kami gunakan. Dengan sedikit kreatifitas lalu kita tambahkan pernak pernik lain sehingga menjadi tas yang cantik.



Sampah organik tentunya diharapkan bisa menjadi pupuk. Kalau saya jujur belum bisa ke tahap ini,  hehe... Sekolah kakak sudah melaksanakannya. Di sekolahnya ada alat pembuat pupuk yang sengaja diadakan untuk mewujudkan sekolah peduli lingkungan, dengan mengelola sampah menjadi pupuk. Pupuk tersebut kemudian digunakan kembali untuk membuat tanaman tumbuh subur.

Bagi keluarga lain mungkin gerakan ini sudah diterapkan sejak lama. Tapi saya yakin masih banyak keluarga yang tidak menerapkannya. Ide memisahkan sampah mungkin terlihat berlebihan, terlalu idealis.  Untuk keluarga kami ini adalah permulaan (kembali). Tidak ada kata terlambat untuk semua perbuatan baik. Sejauh ini terlihat baik baik saja, semoga akan seterusnya menjadi kebiasaan baik selamanya.  Semoga.

Sabtu, 21 Januari 2017

Cerpen anak 'Om Bule dan Kereta Api'

Cerpen

Om Bule dan Kereta Api
Oleh Dela Posita

Liburan sudah berakhir. Sudah satu minggu lamanya Mia, mama dan kakak berlibur di rumah 
nenek. Saat liburan sekolah adalah saat saat paling menyenangkan bagi Mia karena dapat bermain dran bermanja ria bersama kakek dan nenek. Ya, rumah kakek dan nenek berada di kota yang berbeda 
sehingga Mia sulit bertemu dengan mereka. Hanya di waktu waktu tertentu seperti liburan sekolah inilah Mia dapat bertemu dalam waktu yang lama.
Mama sudah berkemas sejak kemarin. Hari ini Mia akan kembali ke Jakarta menggunakan kereta api. Mia cemberut dan bermalas malasan di kasur nenek. Berat rasanya untuk mengakhiri liburan ini dan meninggalkan nenek dan kakek. “Mia, hari ini kita harus pulang. Nanti kapan-kapan kita main lagi ke 
rumah nenek”, ucap mama. Mia hanya terdiam.

Ges.. ges… gess… suara kereta api sudah terdengar. Hiruk pikuk orang di stasiun kereta api 
sangat terasa. Sebenarnya Mia sangat menyukai bepergian dengan kereta api. Pemandangan sepanjang jalannya selalu membuat Mia terpesona. Sawah yang terhampar luas, pepohonan yang bergoyang ditiup 
angin, rumah dan kendaraan yang terlihat terlewat dengan cepat, hembusan angin dari luar gerbong yang menyegarkan…. Aahhh… berwisata dengan kereta api memang selalu menyenangkan. Apalagi berkendara dengan kereta terbebas dari kemacetan dan rasa mual seperti saat berkendara dengan bis. Karena itulah 
berwisata dengan kereta api selalu menjadi pilihan keluarga Mia.


Tapi tidak kali ini. Kereta Parahyangan yang akan dinaiki Mia dan keluarga kali ini adalah kereta malam. Pemandangannya sudah tentu gelap. Dan malam itu penumpang kereta tujuan Jakarta luar biasa padat. Belum pernah Mia melihat kereta sepenuh ini.

Satu tangan mama memegang erat tangan Mia. Sementara tangan satunya menenteng tas bawaan. 
Kakak yang sudah lebih besar berjalan di samping mama. Setelah mendapati gerbong sesuai tiket mama membawa Mia dan kakak ke dalam kereta. Hari itu penumpang membludak! Mungkin karena dua hari lagi liburan akan berakhir, dan anak-anak akan segera masuk sekolah.

Gerbong yang Mia naiki penuh sesak dengan penumpang. Banyak orang yang duduk di bawah lantai kereta. Sampai sampai Mama dan 
Mia harus berjalan pelan dan hati-hati. 

Semua tempat duduk sudah terisi. Tiga seat kursi yang seharusnya menjadi bagian mama, kakak dan Mia hanya tinggal tersisa dua. Yang satu sudah terisi oleh penumpang lain dengan beberapa anak yang usianya lebih kecil dari Mia. Mama pun memilih mengalah dan duduk dengan menggendong Mia.

Setelah menunggu beberapa lama akhirnya masinis menjalankan keretanya. Tiupan angin malam 
langsung terasa. Untungnya mama sudah mengenakan jaket dan kaos kaki untuk Mia dan Kakak. Mama 
memeluk Mia yang berada dalam pangkuannya. Mia memandangi sekitarnya. Jika biasanya satu jajaran kursi kereta api hanya diduduki oleh dua orang, kali ini kursi tersebut diduduki tiga sampai empat orang.

Semua penumpang duduk berdempetan. Anak-anak kecil banyak yang dipangku oleh orang tuanya. Yang tidak beruntung tentu saja duduk di lantai kereta api.

Ada yang menarik perhatian Mia. Diantara sesaknya penumpang, ada seorang pria asing, om bule 
yang duduk di bangku seberang Mia. Om bule terlihat santai duduk berdesakan. Dia pun memberikan 
senyuman pada Mia yang memandanginya. Mia mulai gelisah. Duduk di atas mama lama-lama membuatnya tak nyaman. Ingin sekali Mia bebas duduk sendiri. Om bule yang duduk di kursi seberang Mia tiba tiba saja menawarkan kursinya. 
Dengan bahasa Indonesia berlogat bahasa Inggris dia berkata, “Adek… duduk disini saja. Di sebelah saya masih ada tempat”. Mama memberikan izin dan Mia segera pindah duduk di sebelah om tersebut. Mia gembira. 

Pelajaran yang paling Mia sukai di sekolah adalah bahasa inggris dan Mia tak sabar untuk berbincang bahasa inggris dengan om bule tersebut. Sepanjang perjalanan Mia dan om bule sibuk bercerita, apa saja. Om bule bercerita tentang rumahnya, kegiatannya dan yang menarik om bule memiliki perkebunan dan peternakan kuda di daerah Jawa Barat. 

Mia membayangkan bagaimana asiknya berkuda. Sebenarnya om bule lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia karena dia sudah lama tinggal di Indonesia dan cukup fasih menggunakan 
Bahasa Indonesia. Namun Mia memberanikan diri untuk sesekali bertanya menggunakan bahasa Inggris. Meskipun Bahasa Inggris Mia masih terbata bata tapi om bule mau mendengarkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan Mia.

Om bule lalu mengeluarkan sebuah post card. Dia menuliskan sesuatu dan memberikannya pada Mia. Pada satu sisi kartu tersebut bergambar pemandangan keindahan hamparan kebun teh di daerah Jawa Barat. Sedangkan di sisi lain kartu tertulis sebuah alamat. “Ini alamat rumah om di Bandung. Nanti kapan-kapan kamu bisa kirim surat kesini”, om bule menerangkan. Mia tersenyum dan memegang kartu 
tersebut.

Perjalanan malam itu berubah menjadi sangat menyenangkan. Meskipun malam itu penuh sesak 
dengan penumpang tapi Mia merasa senang bertemu dengan om bule. Selain baik hati, om Bule 
memberikan pengalaman untuk meningkatkan kemampuan berbahasa inggris bagi Mia.

Angin semakin menusuk tulang, tanda hari semakin malam. Tiga jam sudah berlalu. Sebentar lagi 
kereta api akan sampai ke tujuannya, Jakarta. Selepas bercerita panjang lebar dengan om bule, Mia mengantuk dan tertidur di kursi sambil memegang erat kartu yang diberikan om bule.

Samar-samar Mia mendengar suara. Mama membangunkan Mia untuk bersiap-siap. Stasiun 
tujuan mereka akan segera tiba. Mama bilang papa sudah menunggu di stasiun untuk menjemput. Mia 
masih mengantuk dan terkejut kebingungan mencari-cari om bule yang sudah tidak ada di sampingnya. Namun kereta sudah berhenti. Terdengar pemberitahuan bahwa kereta sudah sampai di tujuan dan penumpang dipersilahkan turun.

Mama bergegas membawa mia dan kakak. Kali ini jalanan gerbong sudah lowong. Banyak penumpang yang sudah turun di stasiun sebelumnya.
Mia senang melihat papa. Mia dan kakak segera mencium tangan papa saat bertemu. Mama 
berhenti sesaat di stasiun untuk membeli beberapa makanan dan minuman. Peluit kereta api sudah 
dibunyikan. Kereta Parahyangan sudah mulai bergerak untuk pergi ke stasiun berikutnya. Mia tertegun, sambil memegangi post card. Mia tak bergeming dari tempatnya, terus memperhatikan kereta yang 
beranjak pergi. Mia masih berharap dapat melihat dan melambaikan tangan pada om bule. Tiba-tiba seorang bapak yang tadi juga duduk berdekatan dengan Mia berkata “Dek… om tadi sudah pergi… dia 
turun di stasiun sebelumnya.”. “Tadi adek tidur, jadi dia tidak mau membangunkan adek”, ujar bapak 
tersebut sambil tersenyum. 
Mia terkejut mendengar penjelasan si Bapak. Mia sedih karena belum sempat mengucapkan 
terima kasih dan salam perpisahan kepada om bule. Mia pun segera berbalik menghampiri mama. Dalam 
hati Mia berjanji akan segera mengirimkan surat kepada om bule. Mia akan menceritakan tentang teman-
teman, sekolah dan tentunya tak lupa berterima kasih atas kebaikan yang telah diberikan om bule.**
***

Senin, 02 Januari 2017

Cerpen anak 'Monyet Yaki' by Delapos

Monyet Yaki
Oleh Dela Posita

Namaku Tasya. Aku sangat menyukai binatang. Aku pernah memelihara berbagai binatang di
rumah dari mulai ikan, kelinci, ayam, burung, kucing dan anjing. Untungnya semua keluargaku dari mulai
papa, mama dan adik juga menyukai binatang sehingga kami bisa memeliharanya bersama sama dan
bergantian.

Mama dan papa memperbolehkan aku memelihara binatang jika aku mau mengurus mereka
dengan baik. Aku dan adik bergantian memberikan makanan pada mereka, tapi tentu saja mama dan papa
yang lebih banyak mengurusnya. Papa bertugas menyiapkan makanan dan membersihkan kotoran,
sedangkan mama membantuku memberikan makanan dan mengobatinya jika sakit. Menurut mama,
binatang adalah ciptaan tuhan yang harus dijaga dengan baik. Mereka tidak hanya butuh disayang namun
juga harus diberi makan yang baik, dijaga kebersihan dan kesehatannya.
Suatu kali aku pernah bertanya pada mama punya cita-cita apa? Sambil tersenyum mama
menjawab ingin memiliki tempat konservasi binatang, tempat menjaga dan melestarikan binatang.
Binatang-binatang yang dilindungi dan hampir punah akan dibantu diobati jika terluka dan dikembalikan
lagi ke alam tempat tinggalnya. Mama memang pecinta binatang. Mama seringkali menceritakanku kisah-
kisah binatang, binatang apa saja yang dilindungi dan apa saja yang bisa kita lakukan untuk melindungi
binatang.

Di daerah asalku di Minahasa, Sulawesi Utara, banyak sekali binatang endemik, yang hanya ada
di satu daerah, langka dan dilindungi. Salah satunya adalah monyet Yaki. Dari seluruh dunia, Yaki hanya
ada di daerah Sulawesi Utara, Indonesia. Maka itu mama bilang kita sebagai orang Indonesia, khususnya
Minahasa harus bangga memiliki Yaki dan harus menjaganya. Menurut mama, Yaki sudah hampir punah
karena banyak diburu manusia untuk dipelihara dan dijadikan makanan.

Masyarakat kami, Minahasa,
memang telah memiliki budaya untuk memakan daging monyet yaki sejak lama namun aku sendiri belum
pernah memakannya, bahkan aku belum pernah melihat secara langsung monyet Yaki ini. Mama hanya
sering memperlihatkanku gambar monyet Yaki ini dari internet.
Monyet Yaki memiliki ciri yang sangat khas dibandingkan monyet lainnya. Selain bentuk
mukanya yang khas dan rambutnya yang hitam lebat, monyet yaki memiliki warna merah muda
berbentuk hati pada bagian pantatnya. Hmmm… aku jadi penasaran untuk melihatnya langsung…
**
Siang ini matahari sangat terik. Namun pohon-pohon nyiur yang berada di sekitar kami banyak
memberikan angin sejuk. Daerah Minahasa memang terkenal dengan sebutan ‘Nyiur Melambai’, itu
karena banyak sekali tumbuh pohon nyiur, atau yang biasa kita sebut sebagai pohon kelapa, tumbuh subur
di daerah kami. Jarak dari sekolah ke rumahku memang tidak terlalu jauh sehingga aku terbiasa pulang
berjalan kaki bersama teman-teman.

Perjalanan berjalan kaki terkadang memang terasa berat di saat cuaca
panas seperti ini, untungnya aku selalu ditemani teman-teman.
“Tasya, ngana so dengar rumah misteri di ujung jalan sana?”, “Mari jo torang liat”… salah satu
temanku, Alan mengajak kami untuk pergi mampir ke sebuah rumah. Menurut orang-orang rumah di
ujung jalan tersebut sangat besar dan indah, namun sangat misterius. Jarang terlihat orang yang keluar
masuk. Di sepanjang tembok rumahnya tumbuh tanaman dengan bunga-bunga yang indah. Menurut Alan
dia pernah melihat sebuah pintu masuk di bagian belakang rumah tersebut. Suatu kali pintu tersebut
sempat terbuka dan terlihat halaman yang sangat luas dipenuhi berbagai macam pepohonan. Salah
satunya pohon matoa. Matoa adalah buah khas dari daerah Sulawesi Utara. Buah ini sangat unik karena
memiliki rasa yang berbeda beda. Satu buah matoa bisa terasa seperti durian, tapi buah matoa lainnya bisa
terasa seperti buah leci. Unik bukan… Matoa adalah buah kebanggaan dan kesukaan kami. Matoa hanya
berbuah musiman, dan saat ini sedang musim panen matoa. Alan mengajak kami pergi ke rumah
misterius itu. Siapatau kami beruntung mendapatkan beberapa buah matoa yang jatuh ke luar rumah.
**
Sesampai di rumah Brown anjingku sudah menunggu. Brown berwarna coklat keemasan, itu
sebabnya kami beri nama ‘Brown’. Besarnya setengah dari tinggi tubuhku. Dia mengibas-ngibaskan
ekornya karena senang melihat kedatanganku. Aku mengelus kepalanya. Di meja makan mama sudah
menyediakan makan siang kesukaanku, ikan rica dan sayur kangkung. Aku segera meletakkan sepatu dan
mengganti baju seragamku. Setelah mengganti pakaian dan mencuci tangan segera ku santap makan siang
buatan mama. Sadaaappp…
“Ma, Tasya mau main ya deng tamang-tamang”, izinku pada mama untuk bermain bersama
teman. “Panas ini Tasya. Sore jo…”. Mama melarangku main siang ini. Cuaca siang ini memang sangat
panas. Tapi mama sudah memberikan izin untuk main sore nanti.
Aku tak bisa tidur. Terkadang di siang hari aku tidur. Tapi kali ini aku tak bisa. Aku tak sabar
untuk melihat rumah misterius yang diceritakan Alan tadi. Pr Matematika untuk esok sudah aku
selesaikan. Tak lupa segera kusimpan di tas sekolah untuk esok hari. Aku bergegas mandi untuk pergi
bermain bersama teman-teman.
Aku, Alan, Roni, Glori dan Brown anjingku sudah berkumpul. Mama memintaku mengajak serta
Brown bermain. Anjing memang butuh diajak bermain. Biasanya pagi atau sore hari kami mengajaknya
berkeliling meski hanya memutari lorong-lorong di komplek rumah kami. Sore ini Brown sangat
bersemangat. Dia mengibas-ngibaskan ekornya terus menerus. Sepertinya dia tahu akan berpetualang
bersama kami.

Rumah misterius itu memang bagus. Letaknya tak terlalu jauh dari rumah kami. Hanya ada
beberapa rumah di sekitarnya dengan jarak yang berjauhan. Sisanya dipenuhi oleh kebun-kebun yang
ditanami pepohonan yang tinggi. Rumah tersebut terlihat mencolok di bandingkan sekitarnya. Rumah dua
lantai dengan desain yang megah. Bagian bawahnya tidak terlihat jelas karena tertutup oeh gerbang dan
tembok yang tinggi. Hanya terlihat pilar yang besar dan kokoh dari lantai satu. Namun kami dapat melihat
bagian lantai dua rumahnya yang megah.

Rumah ini memang sangat luas seperti yang dikatakan Alan. Pasti pemiliknya adalah orang yang
sangat kaya. Kami harus berjalan agak jauh mengitari tembok rumahnya hingga sampai di bagian
belakang. Rumah itu tampak sepi, terlebih pada bagian belakangnya. Kami tidak dapat meilhat bagian
dalam rumahnya karena pintu bagian belakang rumah itu tertutup.
Brown terus berlari menyusuri tembok. Aku mengikutinya sementara teman-teman masih berada
di sekitar pintu belakang. Brown mengendus-ngendus bagian tembok yang dirambati tanaman. Brown
masuk ke dalam tanaman tersebut dan menghilang!
“Brown… Brown…!”, aku memanggilnya. Tapi tak ada jawaban. Aku segera berlari menemui
teman-teman. “Brown masuk ke dalam rumah. Ada tembok yang bolong di sebelah sana!”, aku
memberitahukan teman-teman. Langsung saja kami berlari menuju tembok tersebut. Bagian bolong
tersebut tertutupi daun-daun yang merambat dan besarnya hanya seukuran tubuh Brown. Kami pun segera
memutuskan untuk mencari Brown dan memasuki tembok bolong tersebut. Glori nampak ragu-ragu.
Kami tahu memasuki rumah orang tanpa permisi adalah perbuatan yang tidak baik, tapi kami harus
menemukan Brown.
Alan dan Roni memasuki rumah tersebut dengan merangkak. Aku sudah bersiap sementara Glori
masih celingak-celinguk melihat sekitar. “Mari jo Glori… ngana mau sandiri di sini?”, tanyaku. Glori pun
memutuskan ikut karena tidak ingin sendiri di depan rumah. Aku dan Glori merangkak pelan-pelan.
Kami sampai di sebuah halaman yang sangat luas. Banyak pepohonan disana. Alan dan Roni
sudah lebih dulu sampai dan menunggu. Kami pun mulai menyusuri halaman tersebut. Ada beberapa
kandang burung disana. Burung-burung di dalamnya cantik, memiliki berbagai warna yang menarik.
Kami kemudian melewati beberapa pohon matoa. Meski sudah muncul beberapa buah di pohonnya, aku
tak sempat untuk memikirkan atau bermaksud mengambilnya. Aku hanya ingin segera mencari Brown.
Guk.. guk.. Itu dia suaranya! Kami segera mencari arah suara itu. “Brown…”, sekali lagi
kupanggil anjingku, kali ini dengan suara yang pelan. Aku takut sekali pemilik rumah mengetahui
keberadaan kami. “Brown!”, aku berteriak kecil setelah menemukanya. Kami semua lega. Entah apa yang
dilakukan Brown disini. Kami memutuskan untuk segera keluar dari rumah tersebut.
Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah pohon besar di sekitar kami. Ada sekor monyet yang diikat
di pohon itu. Hei, sepertinya aku tidak asing dengan monyet ini. Aku perhatikan baik-baik, dan… ya
benar! Ini adalah monyet yaki yang sering diceritakan mama. Bulunya yang lebat dan hitam, dan
memiliki warna pink di bagian belakangnya.
Monyet itu terikat oleh tali yang pendek sehingga dia sulit bergerak. Dia berusaha bergerak ke
kiri dan ke kanan, namun tampak sulit baginya. Tali itu menahannya. Monyet itu tampak kurang terawat.
Bulu rambutnya agak kusam dan kotor. Kasihan, monyet ini juga terlihat sedih.
“Tasya! Mari jo…”, Glori menarik tanganku. Kami bergegas untuk keluar dari rumah itu dengan
langkah cepat. Hufff… lega rasanya kami bisa keluar dari rumah itu. Kami beruntung sang pemilik rumah
tidak menyadari keberadaan kami.
Matahari mulai tenggelam ketika aku sampai di rumah. Aku segera mengganti bajuku yang kotor
terseret tanah di rumah tadi. Selepas makan malam aku menghampiri mama. “Ma, monyet yaki itu boleh dipelihara?”, tanyaku. “Ndak boleh Tasya. Mama so carita toh hewan liar itu lebih baik tinggal di alam
bebas”, ujar mama. Aku pun bercerita tentang pertemuanku dengan monyet yaki yang malang tadi. “
Tasya yakin itu monyet Yaki?! Nyandak salah lihat??”, kali ini mama bertanya dengan serius. Aku
menjelaskan semua ciri-ciri monyet tadi. Aku meyakinkan mama kalau aku berkata jujur.
**
Satu minggu sudah berlalu sejak kami melewati rumah misteri itu. Aku masih memikirkan nasib
monyet yaki. Mama bilang monyet yaki itu hidup berkelompok dengan teman-temannya. Sehingga lebih
baik dia tinggal di hutan, bermain bersama keluarga dan teman-temanya, bukan terikat di rumah itu.
Sepulang sekolah aku melihat ada mobil di depan rumah. Ada tamu siapa ya.. Kulihat di dalam
ada beberapa orang berseragam. Apa mungkin itu teman mama? Aku berjalan masuk pelan-pelan sambil
mengucapkan salam. “Nah, ini Tasya…”, mama memperkenalkanku pada bapak berseragam . Mama
menjelaskan bahwa Bapak tersebut adalah petugas konservasi dari pemerintah. Kedatangan mereka ke
rumah kami adalah untuk berterima kasih padaku. Aku bingung. Kenapa mereka mau berterima kasih
padaku?
Mama kembali menjelaskan bahwa saat aku bercerita mengenai monyet yaki di rumah misteri,
mama segera melaporkannya ke petugas yang berwenang menangani hewan langka. Rupanya bapak
petugas tersebut telah memeriksa rumah misteri yang aku ceritakan. Dan benar saja, ada monyet yaki
disana. Mereka segera mengamankan monyet yaki untuk dibawa ke tempat konservasi, dimana hewan-
hewan yang dilindungi dirawat untuk dikembalikan ke habitatnya nanti. Selain monyet yaki, petugas
tersebut juga mengambil hewan-hewan lainnya yang ada di rumah tersebut, diantaranya beberapa jenis
burung yang juga dilindungi.
 Bapak petugas memperlihatkanku beberapa lembar foto saat pengambilan monyet yaki dari
rumah misteri tersebut. Mereka berterima kasih karena aku sudah memberikan informasi keberadaan
monyet yaki. Monyet yaki ini termasuk binatang yang dilindungi sehingga tidak boleh dipelihara. Aku
tersenyum senang. Lega sekali rasanya monyet itu sudah berada di tempat yang aman. Aku yakin monyet
yaki pun saat ini sedang tersenyum karena sudah bebas dari ikatan itu dan dapat segera bertemu dengan
teman-temannya.**



Sabtu, 31 Desember 2016

Citarasa Sunda RM Kampoeng Sawah

Pagi pagi mendadak saya berangkat ke Rm Kampoeng Sawah untuk menghadiri sebuah seminar bersama keluarga.

Rupanya Kampoeng Sawah bukan hanya sekedar rumah makan. Melihat dari nama utamanya Kampoeng Sawah Resort sepertinya tempat ini bermaksud tidak hanya sebagai rumah makan namun juga sebagai penginapan, tempat pertemuan/acara juga tempat kolam renang.

Kampoeng sawah terletak di daerah Kabupaten Bandung, di daerah Katapang sebelum Soreang. Kalau anda pergi menuju daerah Banjaran Bandung tentunya akan melewati tempat ini.

Tujuan utama kami datang ke tempat ini adalah menghadiri sebuah seminar. Di lantai atas rumah makan terdapat hall yang cukup luas yang dapat disewa untuk mengadakan pertemuan. Tempat ini dapat menampung lebih dari 200 orang dan menurut saya cukup ideal untuk mengadakan acara karena cukup terbuka sehingga banyak angin segar yang masuk.


Bagi orangtua yang membawa anak dapat mengajak anak-anak pergi ke bagian bawah restauran jika bosan di atas.

Di lantai bawah anak anak dapat melepas penat dengan berjalan jalan menyusuri saung, bermain di pojok tempat main, memberi makan ikan atau duduk menikmati danau kecil dan menelusuri kapal yang tidak terpakai.




Bagian bawah adalah restauran yang terdiri dari banyak saung dan sebuah area makan dengan tempat makan standar kursi dan meja.


Rm Kampoeng Sawah adalah rumah makan berkonsep nyunda. Menu makanan utamanya sudah tentu makanan sunda seperti nasi liwet, ayam goreng dan bakar, ikan goreng, beraneka tumis sayur, sambal dan lainnya. Tempat makannya sebagian besar adalah berupa saung dengan kolam ikan di bagian bawah.

Kampoeng Sawah menyediakan fasilitas parkir yang luas dan mushola di bagian samping. Kebersihannya cukup baik namun di beberapa area di sekitar mushola memang terlihat kusam dan kurang terawat.




Saat jam makan siang tiba rm ini luar biasa penuhnya, sehingga kami tidak mendapati area saung. Area saung tentu menjadi favorit bagi pengunjung karena dapat menikmati makan bersama keluarga dengan suasana lebih santai dengan duduk berselonjor. Untuk duduk di area saung kita tidak dikenakan biaya tambahan , karena ada juga beberapa rumah makan yang mengenakan biaya tambahan untuk bisa duduk di area saung. Namun memang saung diperuntukkan bagi pengunjung yang datang dengan jumlah banyak. Saat saya datang seorang diri saya tidak diperbolehkan mendapatkan area saung saat rm sedang penuh pengunjung.

Tadinya kami akan memesan menu paket. Menu paket tentunya memiliki harga lebih murah, tapi lagi-lagi restauran memiliki kebijakan berbeda saat ramai pengunjung, kami tidak diperbolehkan memesan menu paket. Hmmm...kecewa, akhirnya kami memesan menu terpisah nasi ayam goreng, jus tomat dan jus mangga.

Pelayanan cukup cepat, kami tidak menunggu lama sampai makanan tiba. Namun berdasarkan keterangan pelayan untuk menu nasi liwet kita perlu menunggu waktu agak lama sekitar setengah jam. Kalau anda tidak terburu buru tentu tidak menjadi masalah namun karena saat itu kami akan segera pergi lagi hanya memesan nasi putih biasa. Yang cukup mengecewakan saat kami memesan menu terpisah adalah tidak mendapatkan sambal dan lalapan. Menurut pelayan sambal dan lalap dihargai terpisah.

Untuk rasa sendiri menurut saya rasanya enak, ayam cukup empuk, jus juga enak. Harga relatif terjangkau dan menu cukup variatif.

Oya, jika anda menggunakan kartu debit mandiri akan mendapatkan diskon untuk pembelian minimal seratus lima puluh ribu rupiah. Lumayan ya..

Well untuk rasa dan harga rumah makan ini boleh lah ya.. Apalagi untuk anda yang tinggal di Kabupaten Bandung atau sedang berwisata ke daerah Banjaran, Kabupaten Bandung dan sekitarnya. Untuk anda yang ingin mengadakan acara boleh juga, mereka menyediakan berbagai pilihan paket acara dan pernikahan.


Mungkin lain kali kami akan mencoba ke area kolam renangnya yang juga ada di lokasi yang sama. Menurut informasi harga tiket kolam renang cukup murah dan cukup layak untuk anak-anak. Next time deh kalau ada kesempatan ;)

Semoga bermanfaat  sharingnya, boleh ditambahin ya kalau ada info lainnya :) thx




Sabtu, 17 Desember 2016

Berenang atau Memancing di Fishing Valley?

Berenang sepertinya sudah menjadi aktivitas favorit bagi anak-anak. Tidak perlu menunggu waktu libur tiba, kegiatan ini bisa dilakukan setiap pekan atau sesering mungkin untuk menghibur keluarga.

Fishing Valley merupakan pilihan berenang di daerah Kabupaten Bogor. Tempat ini sangat dekat dengan tempat tinggal kami namun baru kali ini berjodoh kesana :) Terletak di Jalan Raya Pemda, sudah masuk ke dalam Kabupaten Bogor. Untuk menuju kesana kita bisa menggunakan angkutan umum 32 Cibinong-Bubulak (Bogor). Jika menggunakan kendaraan pribadi cukup menemukan jalan raya Pemda di daerah Keradenan. Patokannya cukup mudah yaitu adanya patung ikan sebelum masuk ke kawasan ini. Kalau dari arah Bogor tempat ini terletak tepat sebelum anda akan berbelok ke jalan yang menuju Stasiun Cilebut.



Memasuki kawasan ini akan disajikan dengan hamparan pemancingan yang luas terbentang. Jika anda menggunakan kendaraan umum maka harus berjalan sedikit ke dalam kawasan ini dari jalan utama.

Menurut penuturan staf disana kawasan pemancingan dibagi dua yaitu pemancingan untuk lomba dan pemancingan biasa. Untuk memancing biasa tidak dikenakan biaya saat memancing namun saat dapat ikan tentu saja kita harus membayar :D dengan kisaran harga 25.000-35.000 tergantung dari jenis ikan yang didapat (nila, mas, mujair dan lainnya).

Dari tagline utamanya didapati bahwa Fishing Valley adalah tempat pemancingan dan restoran, namun sayang sekali saya tidak mampir ke restoran sehingga tidak bisa melaporkan bagian tersebut.

Pada awalnya tempat ini menyediakan aktifitas berkuda, namun dikarenakan tidak ada lagi penjaga kuda, saat ini kuda kuda tersebut tidak dapat disewakan untuk dinaiki. Anak-anak saya yang sempat merengek untuk menaiki kuda akhirnya mengurungkan niat karena tidak disewakan. Sehingga kami hanya dapat melihat tiga ekor kuda di istalnya dari jarak jauh.

Daya tarik utama Fishing Valley menurut saya saat ini adalah tempat renangnya, karena adanya kebutuhan masyarakat terutama anak-anak terhadap kolam permainan. Kolam renang buka setiap hari mulai pukul 08.00 pagi sampai 18.00 sore. Harga tiket masuknya cukup terjangkau yaitu 25.000 untuk hari biasa dan 30.000 untuk weekend per orang. Khusus anak di bawah satu tahun tidak dikenakan biaya.


Kawasan kolam renang dibagi menjadi dua area. Area pertama tentu saja adalah arean bermain dengan empat kolam main dan satu area terpisah khusus dirancang kolam latihan seperti atlet renang dengan batu loncat perenang.



Sehingga kolam ini dapat digunakan oleh berbagai kalangan dari mulai anak-anak dan keluarga yang sekedar ingin bermain air, siswa dari sekolah yang mengadakan kegiatan renang massal atau atlet yang ingin berlatih khusus.

Fasilitas di kolam cukup lengkap dari mulai tempat tunggu, toilet, kamar ganti, air pancuran outdoor untuk mandi, restaurant, jajanan, area bermain, penyewaan ban, sampai fasilitas hiburan seperti panggung besar dan organ tunggal bagi yang ingin eksis karaokean.

Tempat tunggu berpayung letaknya sangat dekat dengan kolam sehingga orangtua cukup tenang untuk mengawasi anak dari jauh. Namun saran saya selalu dampingi anak-anak dari jarak dekat, ikut berenang bersama tentunya lebih baik.

Saya selalu mengusahakan berenang bersama anak-anak, selain sebagai bonding dengan mereka juga untuk pengawasan yang lebih. Berada di kawasan air bagi saya memiliki resiko yang cukup besar, dari mulai resiko tenggelam, terpeleset karena licin, juga bermain bersama teman atau orang lain yang kadang membahayakan. Bahkan saat saya sudah antisipasi mengawasi dari jarak dekat pun masih ada saja hal hal tidak diinginkan yang terjadi.

Kejadian hari ini misalnya saat Faiha terantuk pinggiran perosotan air. Meskipun ada lifeguard benar-benar tidak menjamin karena mereka mengawasi banyak hal dan saat terjadi kecelakaan pun mereka tidak akan bertindak secepat orangtua. Saat kejadian tadi misalnya, meskipun hanya kecelakaan ringan lifeguard hanya berpesan untuk hati-hati tanpa sedikitpun mengecek kondisi anak, sementara sang anak menangis kesakitan.

Kejadian lain yang tidak diinginkan lainnya adalah adanya tikus mati di kolam anak. Jika orangtua tidak turun langsung, maka anak-anak akan tetap bermain di kolam. Padahal hal ini beresiko penyebaran penyakit dari tikus mati tersebut.  Segera setelah terlihat tikus itu kami memanggil petugas untuk membersihkan dan melarang anak-anak bermain di kolam tersebut.

Kebersihan di area kolam dapat saya katakan cukup. Tempat sampah banyak disediakan pihak pengelola sehingga pengunjung tidak kesulitan membuang sampah. Namun di beberapa bagian kolam terdapat daun-daun kering sehingga di beberapa bagian kolam tampak sedikit kotor. Bagian kebersihan perlu digalakkan terutama di bagian jalanan antar kolam yang sedikit licin dan kotor. Namun untuk toilet dapat saya nilai cukup bersih.

Untuk permainan di kolam sendiri saya lihat cukup lengkap dari mulai berbagai perosotan mini sampai melingkar, ember tumpah, pancuran air, terowongan juga perosotan dengan ban besar. Sehingga anak-anak terlihat puas bermain disana.

Yang saya sayangkan adalah pada lifeguard yang menyewakan ban. Harga sewa untuk ban kecil Rp.10.000 dan ban super besar Rp.20.000. Pada saat menyewa tidak disebutkan berapa lama penggunaan ban. Sehingga anak saya sangat kecewa saat bermain tiba-tiba ban nya diambil lifeguard karena sudah dua jam pemakaian.

Di depan pintu masuk disebutkan aturan tidak boleh membawa makanan dan minuman dari luar. Cukup dimengerti karena di dalam area kolam banyak dijual berbagai makanan dengan harga yang masuk akal. Untuk jagung rebus, popcorn, crepes dan singkong goreng misalnya dihargai lima ribu rupiah. Serta ada berbagai jenis jajanan lainnya seperti nasi goreng, seblak, popmie, dan aneka snack.

Di bagian atas terdapat area outbond yang cukup luas. Area ini sepertinya dibuat untuk rombongan yang ingin mengadakan kegiatan khusus bersama-sama. Karena di dalam area ini terdapat sebuah panggung agak besar untuk mengadakan acara dan permainan anak.


Akhir kata anak-anak tentunya puas bermain disini. Sehingga hujan lah yang akhirnya menghentikan kegiatan mereka :D Dari senyum yang mengembang di bibir mereka insyaallah kami akan kembali lagi kesini karena harga yang terjangkau juga pastinya.